Mahasiswa Pasca Instika kumpulkan Puluhan Naskah Pesantren

PASCASARJANA Selasa, 27 Desember 2016 11:41 WIB
1195x ditampilkan Headline Berita

Instika Guluk-Guluk, 27/12/2016. Tak salah bila dikatakan bahwa pesantren adalah jantung peradaban Islam di Nusantara. Seiring dengan berkembangnya kajian pendidikan kepesantrenan semakin menunjukkan bahwa kajian keilmuan di pesantren bukan melulu soal agama saja, namun juga membincang problem sosial, ekonomi, pertanian dan politik.
Bukti tersebut menunjukkan bahwa pesantren benar-benar memiliki peran strategis dalam mengembangkan peradaban sebuah Negera. Itulah salah satu sebab, dikenakannya peran pesantren secara sistemik sejak beberapa tahun silam.
Instika, sebagai perguruan tinggi pesantren melalui program pascasarjana berkomitmen untuk mengoleksi berbagai manuskrip yang dimiliki oleh beberapa Kiai seluruh pesantren di Madura. Kegiatan ini bertujuan agar ratusan naskah dengan ide dan pemikiran briliyan para Kiai di Madura tidak hilang begitu saja.
Fathor Rachman selaku kaporodi PAI program Pascasarjana di Instika mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan membentuk tim untuk memburu manuskrip tersebut "untuk saat ini, kami hanya menggerakkan mahasiswa untuk mengumpulkan, mendeskripsikan berbagai manuskrip tersebut, nanti kita digitalisasikan. Saat ini sudah ada sekitar 60an manuskrip yang di digitalisasi oleh Instika dengan bimbingan bapak Dr. Islah Gusmian" ungkap kandidat doktor di UIN Malang ini.
Anas Mushthafa salah satu mahasiswa pasca di Instika menceritakan bahwa ia menemukan banyak sekali manuskrip yang yang dimiliki oleh beberapa Kiai di Gapura Timur, Gapura Sumenep. Hal ini merupakan kesempatan besar bagi Instika untuk mengoleksi berbagai kitab yang luar biasa tersebut. Ia menegaskan bahwa mengkaji manuskrip memiliki daya tarik tersendiri, karena kajian tersebut bersifat orisinil dan mencerminkan karakter Islam Nusantara.
Sampai saat ini, Instika telah mendigitalisasi berbagai manuskrip yang membahas tentang Fiqh, Aqidah, Akhlah, dan Tadawuf. Dan tentunya, temuan akan terus berkembang karena beberapa manuskrip yang selesai di digitalisasi belum dideskripsikan secara menyeluruh. (AWI/Adm)